Hasan Nasbi Batupahat adalah seorang konsultan politik dan politisi Indonesia, yang saat ini menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi. Dia juga menjabat sebagai Komisaris Pertamina, setelah sebelumnya di-reshuffle dari Kabinet Merah Putih sebagai Kepala Komunikasi Kepresidenan Republik Indonesia yang dijabatnya sejak 19 Agustus 2024. Ia merupakan salah satu Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka untuk pemilihan umum Presiden Indonesia 2024.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Hasan Nasbi | |
|---|---|
| Penasihat Khusus Presiden Indonesia Bidang Komunikasi | |
| Mulai menjabat 27 April 2026 | |
| Presiden | Prabowo Subianto |
| Kepala Komunikasi Kepresidenan | |
| Masa jabatan 19 Agustus 2024 – 17 September 2025 | |
| Presiden | Joko Widodo Prabowo Subianto |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Hasan Nasbi Batupahat 11 Oktober 1979 Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia |
| Partai politik | Independen |
| Suami/istri | Dwi Aprilia |
| Anak | 3 |
| Almamater | Universitas Indonesia |
| Pekerjaan | Konsultan |
|
| |
Hasan Nasbi Batupahat[1] (lahir 11 Oktober 1979) adalah seorang konsultan politik dan politisi Indonesia, yang saat ini menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.[2][3] Dia juga menjabat sebagai Komisaris Pertamina,[4] setelah sebelumnya di-reshuffle dari Kabinet Merah Putih sebagai Kepala Komunikasi Kepresidenan Republik Indonesia yang dijabatnya sejak 19 Agustus 2024.[5] Ia merupakan salah satu Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka untuk pemilihan umum Presiden Indonesia 2024.[6][7]
Hasan Nasbi dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 11 Oktober 1979 dalam keluarga Minangkabau.[8] Ibunya merupakan adik satu bapak dari Ahmad Syafi'i Ma'arif.[9] Ayahnya bernama Aliman Syahmi,[10] seorang ulama di Kubang Putih.[11]
Hasan Nasbi mengenyam pendidikan SD dan MTs di Kampuang Nan Limo, Kubang Putiah, Banuhampu, Kabupaten Agam,[12] dan SMA Negeri 2 Bukittinggi.[13] Pada 1998, ia mulai berkuliah di Universitas Indonesia (UI).[14] Pada Oktober 2000, ia menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat UI.[15] Ia meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) pada 2004.[16]
Ia merupakan salah satu pendiri Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tan Malaka pada Juni 2002.[17] Ia juga menjadi sekretaris Harry A. Poeze, peneliti Tan Malaka.[16] Pada Oktober 2004, ia menjadi salah satu redaktur Buletin Madilog: Media Pembelajaran Masyarakat yang hanya terbit 3 kali dan beredar di kampus Universitas Indonesia.[18] Ia menulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka (2004)[19] dan salah satu penulis buku Mewarisi Gagasan Tan Malaka (2006).[20][21]
Hasan Nasbi pernah sebentar menjadi wartawan Kompas antara 2005 hingga 2006.[15][22] Pada 2006, ia menjadi peneliti Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia hingga 2008. Setelah itu, ia mendirikan Cyrus Network, sebuah lembaga survei.[13] Pada Desember 2011, ia berkenalan dengan Wali Kota Surakarta Joko Widodo yang berdasarkan hasil survei lembaganya didorong untuk menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.[23] Pada 2012, ia menjadi Koordinator Tim Relawan Joko Widodo–Basuki Tjahaja Purnama untuk pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta 2012.[24] Pada 2016, ia dan enam orang temannya memodali Teman Ahok sebesar Rp500 juta.[25][26][27] Pada Januari 2023, ia melakukan perjanjian taruhan mobil Toyota Alphard dengan Sunny Tanuwidjaja apabila Anies Baswedan berhasil maju menjadi calon presiden dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2024.[28][29]
Pada 21 Maret 2025 ia mendapatkan sorotan dari masyarakat usai memberikan tanggapan pengiriman kepala babi ke jurnalis Tempo yang bernama Francisca Christy Rosana atau Cica.[30] Hasan berucap agar kepala babi itu dimasak saja. Pernyataan yang ia lontarkan dianggap arogan, tidak berempati, tak peka dan memberikan kesan menyepelekan teror terhadap jurnalis Tempo tersebut. Sebagai Kepala Kantor Komunikasi Presiden ia diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan menjadi jembatan antara kekuasaan dan rakyat. Tanggapan yang diberikan oleh Hasan Nasbi juga disorot oleh mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti.[31][32]
Total harta kekayaan sebesar Rp41,33 miliar. Terdiri dari 9 bidang tanah dan bangunan senilai Rp13,96 miliar yang tersebar di Jakarta Selatan, Bekasi dan Bogor. Alat transportasi dan mesin senilai Rp9,51 miliar yang terdiri dari 5 mobil dan 1 motor, kas dan setara kas Rp17,69 miliar, dan harta lainnya sebesar 735 juta serta jumlah hutang sebesar Rp575 juta.[33]